Penyebab dan Penanganan Murai Manja

Diposting pada

Salah satu keluhan yang sering terdengar dari para pecinta Murai adalah sikap manja anakan Murai yang dibeli dari penangkaran. Tentu saja keadaan tersebut menjadi kendala tersendiri untuk pemilik Murai yang menginginkan burung peliharaannya tampil sebagai jago dalam perlombaan, karena Murai dengan karakter manja akan malas berkicau saat diadu atau didatangi juri.

Berdeda halnya jika Murai yang kita miliki hanya sekedar untuk peliharaan atau koleksi, hal tersebut bukanlah permasalahan yang berarti.

Menemukan penyebab dan penanganan Murai manja adalah jalan terbaik untuk mengatasi permasalahan pelik ini. Untuk itulah secara khusus kami akan membongkar alasan dibalik manjanya burung Murai beserta cara penanganannya, selamat menyimak.

Ciri Burung Murai Manja

Burung Murai yang dikatakan manja, biasanya akan menunjukkan beberapa karakter atau tingkah polah yang “aneh” ketika berhadapan dengan lingkungan yang baru atau berada di lapangan perlombaan. Berikut ciri-ciri yang bisa kita kenali:


Murai akan turun dari tangkringannya dan berhenti berkicau saat ada keramaian dan juri yang mendekat.

Sayapnya dibuka selebar mungkin sebagai tanda provokasi atau perlawanan dari sang burung Murai terhadap orang asing.

Tips Perawatan Murai Ekor Panjang dan Hal-hal yang Harus di Hindari

Karena ingin mendapat “perhatian” juri, Murai tersebut justeru akan mengikuti setiap arah gerakan juri alih-alih berkicau.

Kalaupun mau bersuara, suara yang terdengar lirih atau seperti orang bergumam, yang istilahnya disebut ngriwik.

Penyebab Murai Menjadi Manja

Ada beberapa penyebab Murai menjadi manja, salah satunya adalah dari kesalahan metode perawatan saat Murai tersebut masih kecil. Apa maksudnya? Silahkan dipelajari penuturan di bawah ini, agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Burung Murai hasil penangkarang biasanya akan dipisahkan dari indukannya saat baru berusia 7 – 10 hari pasca menetas. Hal ini dilakukan karena pada usia yang muda itu burung Murai masih memiliki penglihatan yang samar dan belum mampu mengenal indukannya, sehingga memisahkan sedini mungkin adalah pilihan terbaik untuk memudahkan kita dalam meloloh anakan.

Oleh sebab anakan Murai tersebut belum bisa makan sendiri, maka kita pun harus menggantikan peran indukan untuk melolohnya, interaksi yang sering terjadi itulah yang membuat murai terbiasa dengan kehadiran manusia.

Pada saat inilah rentan terjadi kesalahan, pemilik yang meloloh anakan Murai cenderung memanjakan Murai dengan mengelus-ngelus bulunya, bahkan mengajak sang anakan tersebut untuk berbicara.

Pada akhirnya Murai tidak takut lagi dengan kehadiran menusia, bahkan cenderung ada ketergantungan pada pemiliknya, sikapnya pun berubah menjadi manja. Karakter inilah yang turut dibawah saat sedang berada di lapangan.

Penanganan Murai Manja

Langkah penanganan Murai manja harus kita mulai sedini mungkin atau sejak masih anakan. Terapkanlah metode meloloh yang baik dan benar, berikut ulasannya.

Adakalanya kita lupa mengambil anakan Murai hingga ia bisa membuka mata dan mengenali indukannya, kejadian selanjutnya hampir dipastikan anakan tersebut akan menolak jika kita loloh. Solusinya, biarkan dahulu anakan itu bersama indukannya sampai bisa makan jangkrik, selepas itu baru kita pisahkan.

Jangan terlalu lama dalam meloloh. Berikan kesempatan agar anakan Murai tersebut bisa mandiri dan belajar makan jangkrik sendiri.

Cobalah meloloh anakan Murai secara bergantian, maksudnya jangan hanya satu orang saja, dengan demikian anakan tersebut tidak akan “akrab” dengan satu orang saja.

Saat mengajari makan jangkrik pun usahakan tidak lewat tangan kita secara langsung, tapi gunakan lidi atau tusuk yang lain yang memungkinkan posisi kita berjauhan dari kandang anakan Murai.
Berikan tutup atau kerodong pada sangkarnya. Jika memungkinkan pula, tempatkan anakan tersebut pada satu ruangan khusus yang tertutup.


Perlu diperhatikan bahwa untuk menghasilkan Murai jagoan lomba yang tidak manja, maka sebisa mungkin kita menjauhkan anakan dari suara-suara yang kemungkinan bisa mengganggu, terlebih lagi suara dari pemiliknya. Semakin sering kita berinteraksi dengan anakan Murai tersebut, semakin besar peluang untuk menjadi manja saat tumbuh dewasa kelak. Jika tidak bisa menempatkan anakan Murai pada ruangan khusus, siasati dengan meletakkan sangkar atau di tempat yang lebih tinggi, bahkan mendekati plefon rumah.


Demikian halnya saat kita membuka kerodong untuk memberi makan atau minum, usahakan anakan tersebut tidak melihat kita.

Caranya bisa dengan membelakangi resleting saat membuka kerodongnya.
Jangan terlalu sering memantau atau melihat anakan Murai, kecuali saat memberi jatah makan dan minum.

Ini salah satu penyakit atau kebiasaan buruk pemilik Murai yang suka mengamati anakannya, bahkan jika ada tamu, kecenderungan untuk “pamer” semakin besar. Karena itulah sangat penting menyediakan ruangan tersendiri bagi anakan Murai demi menghindari interaksi berlebihan dengan manusia.

Perlakukan anakan Murai seperti ini hingga mencapai umur 2 bulan lebih. Jangan berlebihan dalam merawat anakan, maksudnya anakan Murai tidak perlu terlalu disayang hingga dibelai-belai bulunya.

Perlakuan sedikit kasar seperti menggebrak-gebrak sangkar justeru diperlukan untuk membangkitkan jiwa fighternya. Sebab kita tengah mempersiapkan Murai calon petarung di lapangan, bukan burung peliharaan biasa di rumah.

Jika anakan sudah bisa mandiri dan makan jangkrik sendiri, sebaiknya dilepaskan di kandang khusus umbaran untuk anakan. Tidak perlu lagi melolohkan jangkrik, tapi cukup diletakkan di dasar kandang agar anakan Murai dapat belajar agresif mengejar mangsanya.

Jika burung Murai Anda tidak mau mandi di dalam keramba dan lebih memilih cepuk, jangan dipaksakan untuk mandi di keramba. Namun bukan berarti perlakuan ini bisa dijalankan seterusnya, secara perlahan latihlah Murai tersebut untuk mandi di keramba.

Yang terpenting saat pelatihan mandi di keramba, jangan sekali-kali menyediakan cepuk dalam sangkarnya, terdengar sedikit tega memang tapi ini demi membentuk mental Murai agar tidak menjadi manja. Pada waktunya jika benar-benar membutuhkan mandi, Murai tersebut akan mau menceburkan diri di dalam keramba, bahkan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan.

Demikianlah ulasan kami mengenai penyebab dan penanganan Murai manja. Semoga artikel ini menambah pengetahuan Anda mengenai perawatan anakan Murai yang baik dan benar, sehingga saat dewasa bisa menjadi burung yang tidak jinak namun sebaliknya fighter dan bisa diandalkan dalam setiap perlombaan. Salam sukses bagi kita semua.
Sumber: sklbirdfarm.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *